Sejarah RSIS


Sejarah Rumah Sakit Islam Surakarta Sebagai Harta Wakaf

I. Suasana Kebatinan Ummat Islam Tahun 1960-1970.

1. Ummat Islam Wajib mempunyai Rumah Sakit Islam.

Dalam ikut membangun Negara dan Bangsa Indonesia Ummat Islam Indonesia menjadi tulang punggung pelaksanaan Pembangunan itu, baik Ummat Islam sebagai pelaksana yang duduk dalam Pemerintahan maupun Ummat Islam yang membangun dengan kekuatan sendiri. Pembangunan yang kebanyakan langsung ditangani oleh Ummat Islam dengan kekuatan sendiri adalah misalnya, tempat- tempat Ibadah, tempat- tempat Pendidikan, dan lain- lainya tampak maju dengan pesatnya dimana- mana. Salah satu segi yang masih jauh ketinggalan dalam usaha Ummat Islam dengan Ummat Kristen ialah PEMBANGUNAN DIBIDANG KESEHATAN (RUMAH SAKIT).

Rumah Sakit adalah tempat pengabdian kebaktian kepada Ummat manusia tanpa pandang agama, golongan, pangkat, derajat, kaya atau miskin. Setiap instan yang menderita sakit dan masuk Rumah Sakit, disana ia akan diperlakukan sama dengan penuh kasih sayang.

Pengertian kasih dan sayang ini bagi kita Ummat Islam telah tercantum dalam sifat- sifat Tuhan Ar-Rahman dan Ar-Rahim dan kita selalu mengutamakan membaca Bismillahirrohmanirrohim. Kita sebagai manusia yang percaya kepada Tuhan selalu diingatkan kepada kedua sifat Maha Kasih dan Maha Sayang dari Allah SWT itu. Contohlah kedua sifat luhur ini dan laksanakanlah dalam pergaulan masyarakat Ummat manusia sehari- hari.

Realisasi dari kedua sifat Tuhan itu akan sangat nyata kelihatan dan sangat diperlukan dalam Rumah Sakit, dimana dirawat orang- orang yeng menderita dan mereka sendiri tidak dapat menghindarkan diri dari malapetaka penderitaannya, mereka memerlukan bantuan sukarela dan penuh keikhlasan, pertolongan dan belas kasih dari orang lain.

Alhamdulillah, setelah kemerdekaan Republik Indonesia telah bermunculan inisiatif dari Ummat Islam untuk meningkatkan pembangunan dibidang Kesehatan. Hal ini nyata dengan banyaknya tempat- tempat Perawatan Kesehatan, Balai Pengobatan, Klinik- Klinik Bersalin, BKIA, dan Rumah Sakit yang diusahakan sendiri oleh Ummat Islam untuk menjalani kepentingan umum. Tapi usaha inipun masih bersifat kecil- kecilan dan lokal. Rumah Sakit Islam yang representatif dan cukup besar belum kita miliki.

Pada waktu ini Rumah Sakit yang besar dan cukup baik baru diusahakan oleh Misi Kristen. Rumah Sakit Pemerintah biasanya berkwalitas sedang dan bersifat umum. Didorong oleh keinginan melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan bermasyarakat, maka di kota- kota seperti Yogyakarta, Jakarta, Bandung, dan Bukitinggi telah dimulai usaha kearah rencana- rencana yang agak besar. Kita Ummat Islam yang berdiam dalam daerah Surakarta khususnya, Jawa Tengah pada Umumnya tidak akan mau ketinggalan dalam berlomba- lomba mengamalkan kebaikan ini.

Oleh sebab itu segenap kaum Muslimin dan Muslimat harus merasa dipanggil memenuhi cita- cita untuk mendirikan sebuah Rumah Sakit Islam yang representatif yang dijiwai dengan ajaran- ajaran Islam yang sempurna.

 

2. Perawatan di Rumah Sakit pada Jaman Penjajahan Belanda dan Rumah Sakit Kristen.

Pada jaman Belanda tugas pembangunan Rumah Sakit dilakukan oleh Pemerintah Belanda. Dengan sendirinya Rumah Sakit akan disesuaikan dengan kepentingan Pemerintah Belanda, dimana selain sebagai penjajah dibidang Politik dan ekonomi, juga bertugas sebagai Missi Kristen di Indonesia ini. (Missi Kristen ini sesuai dengan anjuran ratu Belanda pada Pidato Kerajaanya tahun 1901 yang berbunyi : Sebagai Negara Kristen, Pemerintah Belanda berkewajiban mengatur lebih baik kedudukan hukum rakyat Kristen yang berada di Kepulauan Hindia Belanda (Indonesia), memperkuat Zending Kristen, meneruskan kebijaksanaan pemerintah tentang keinsyafan bahwa pemerintah Belanda haruslah mengisi penggilan moral terhadap negeri yang dijajahnya). Karena itu kepentingan kaum muslimin dibidang Kesehatan tidak terpikirkan sama sekali. Disamping itu kaum Kristen Indonesia mendapat bantuan sepenuhnya dari Pemerintah Belanda dalam mengembangkan misinya, termasuk pendirian Rumah Sakit- Rumah Sakit di Indonesia ini. Hal ini dapat dapat kita lihat sekarang, dimana Rumah sakit yang baik masih merupakan Rumah Sakit yang diusahakan oleh Kaum Kristen, sedangkan menilik jumlah mereka sangat sedikit dibanding Ummat Islam.

Bagaimana nasib seorang Muslim yang dirawat dalam Rumah Sakit Kristen ? Dirumah Sakit ini, hampir semua pekerja terdiri dari orang- orang Kristen, sehingga suasana di dalam Rumah Sakit itu merupakan keluarga Kristen.tampak tiap hari Suster- suster yang berpakaian putih- putih berbicara dengan ramah, lemah lembut, dan berbudi, menjalankan tugasnya melayani penderita- penderita tanpa pilih kasih. Pastur yang juga berpakaiann putih- putih jalan mondar- mandir, masuk zaa keluar zaal untuk mengunjungi penderita- penderita yang perlu mendapatkan perawatan Rohaninya. Di dalam tiap- tiap zaal persis didepan mata penderita berbaring memandang kearah dinding, disana tergantung salib Tuhan Jesus  Kristus. Di atas meja terdapat patung Bunda Mariam. Demikian sedikit gambaran kehidupan agamis dilingkungan Rumah Sakit Kristen. Bagi seorang Muslim yang sejak kecil terdidik dengan Agama Islam, apabila ia terpaksa dirawat di Rumah Sakit Kristen sering kejadian timbul pertentangan kejiwaan, setelah melihat keadaan sehari- hari yang bertentangan dengan keyakinan hatinya dan terpaksa minta pulang kembali sebelum sakitnya sembuh. Malah kadang- kadang sakitnya jadi lebih parah dan akhirnya meninggal di tumah tanpa mendapat perawatan dari ahlinya. Satu hal yang tragis dan menyedihkan, bila penderita seorang Muslim sampai menemui ajalnya di Rumah Sakit Kristen, disana akan terlihat pemandangan yang mengharukan  dilihat dari sudut ajaran Islam. Seorang muslim yang sejak kecil terdidik dan patuh menjalankan  Agama Islam, akhirnya mati tanpa ditunggui keluarga, tapi mati ditunggui Pastur Rumah Sakit. Mati tanpa dituntun membaca Kalimat Syahadat, tapi mati didepan salib Tuhan Jesus Kristus. Entah bagaimana menurut penilaian Allah SWT nasib si Muslim ini, tetapi secara lahiriyah bagi seorang Islam hal tersebut sangat disayangkan.

Kita hanya dapat menghindarkan hal- hal seperti itu jangan sampai terjadi, baik pada diri kita sendiri maupun pada Saudara- saudara kita kaum muslimin yang lain, dengan satu jalan yaitu memiliki Rumah Sakit Islam sendiri. 

 

3. Pelayanan Rumah Sakit Pemerintah.

Setelah indonesia merdeka, tugas Pemerintah Belanda dalam menyelenggarakan Rumah Sakit diambil alih oleh Pemerintah Indonesia.

Pemerintah Indonesia yang rakyatnya terdiri dari berbagai pemeluk agama menyatakan cara-cara perawatan kesehatan yang hanya bersifat umum dan bersifat pengobatan jasmaniah saja; tidak menjurus ke satu tata cara agama tertentu, tetapi sudah ada peningkatanya dimana penderita dan keluarganya diperbolehkan menjalankan tata cara sesuai dengan agamanya masing- masing sejauh hal itu tidak mengganggu perawatan kesehatan yang semestinya.

Di Rumah Sakit juga sudah ada Mushola bagi orang- orang Islam yang menjalankan Sholat. Tapi meskipun demikian tata cara murni dari Agama Islam belum dapat dilaksanakan, karena tidak adanya peraturan- peraturan khusus mengenai hal itu dan juga belum ada pelaksanaanya yang khusus.

Jadi sampai sekarang Ummat Islam di Indonesia belum mendapatkan perawatan Kesehatan yang sesuai dengan tuntunan Agama Islam sendiri.

 

4. Apa yang dikehendaki Ummat Islam.

Masyarakat Islam pada umumnya mengharapkan berdirinya satu Rumah Sakit Islam yang cukup besar, representatif, mencukupi syarat- syarat moderen didalam Perawatan Kesehatan dengan tenaga ahli yang cukup serta perawatan yang bermutu, dimana disana bersinar pula Kebesaran dan Keagungan Illahi Rabbi, dengan tampak kebersihan dan ketertiban Rumah Sakit disertai dengan tutur sapa yang lemah lembut, sikap sopan santun dan budi luhur dari para Pengasuh dan juru rawatnya sehingga benar- benar Rumah Sakit itu Membawakan syiar Agama Islam yang sebaik- baiknya.

Dengan Rumah Sakit itu pula Ummat Islam menyumbangkan darma baktinya kepada Masyarakat Ummat (tidak saja Ummat Islam) dengan nyata.

Rumah Sakit yang dicita- citakan itu bukan hanya sebagai tempat Perawatan Kesehatan melainkan juga sebagai tempat Pendidikan Tenaga Kesehatan yang meliputi Pendidikan Dokter, Djuru Rawat, Bidan, dan sebagainya. Rumah sakit itu juga sekaligus sebagai pusat kesehatan masyarakat yang mempunyai Pos-pos Kesehatan di daerah- daerah sehingga dengan berdirinya Rumah Sakit itu akan sangat bermanfaat kepada masyarakat luas , tidak hanya yang tinggal dikota, tetapi di desa-desa yang terpencilpun dapat menikmatinya.

Pendapat beberapa Ulama Surakarta pada waktu menanggapi adanya usaha pendirian Rumah Sakit Islam di Surakarta mengingatkan bahwa kondisi sosial ekonomi masyarakat pada tahun 1960- 1970 sangat lemah, kiranya sulit mengumpulkan dana besar untuk pembangunan Rumah Sakit Islam di Surakarta, kecuali dengan mengumpulkan wakaf dari para akhniak yang ada di Surakarta.

 

 

 II.            Langkah Realisasi Pembangunan Rumah Sakit Islam Surakarta.

    1. Kondisi sosial ekonomi pada tahun 1970 sangat buruk dan ternyata sulit untuk mendapatkan dukungan dana membangun Rumah Sakit Islam di Surakarta. Dari sekian banyak para ahniak yang dihubungi sebagian setuju dan lebih banyak yang tidak setuju karena masalah dana yang sulit dicari. Akhirnya kami bertiga (dr. Djufrie, dr. Amin Romas, dan Ir. Taufiq Rusdi) sepakat memilih jalan Pengumpulan Wakaf Ummat Islam Surakarta sesuai pendapat para Ulama dalam upaya mendapatkan dana pembangunan Rumah Sakit Islam Surakarta.
    2. Pada pertengahan bulan November tahun 1970 saya mengundang Bo. DR. M. Natsir untuk membangunkan semangat Ummat Islam Surakarta dan pertemuanya di Jalan samping Balai Muhammadiyah Keprabon, depan rumah Bp. Abdul Wahap Gani, waktu bakda sholat Ashar. Dalam pertemuan itu keinginan membangun Rumah Sakit Islam Surakarta dapat dukungan Ummat Islam Surakarta dan Dipercayakan kepada dr. Djufrie, dr. Amin Romas, dan Ir. Taufiq Rusdi membuat Akta Notaris YARSIS.
    3. Atas kepercayaan Ummat islam Surakarta dr. Djufrie, dr. Amin Romas, dan Ir. Taufiq Rusdi masing- masing mengumpulkan uang tunai sebagai modal awal Pendirian Yayasan sekaligus sebagai wakaf awal pendirian Rumah Sakit Islam Surakarta. Masing- masing bertindak sebagai Nadzir sekaligus sebagai wakif dimana sebagai Ketua Nadzir dr. Djufrie mewakafkan Rp.3000,-(Tiga ribu Rupiah), Sekretaris dr. Amin Romas mewakafkan Rp.2000,-(Dua ribu Rupiah), dan Bendahara Ir. Taufiq Rusdi Rp.2000,-(Dua ribu Rupiah), sehingga terkumpul Rp.7000,- ,-(Tujuh ribu Rupiah).
    4. Sebagai modal awal dengan uang Rp.7000,- dr. Djufrie, dr. Amin Romas, dan Ir. Taufiq Rusdi menghadap R. Soegondo Notodisoerjo, Notaris di Surakarta membuat Akta Yayasan Rumah Sakit Islam Surakarta (YARSIS) yang diterbitkan dengan Akta No.35 tanggal 27 November 1970. Sehingga dengan demikian Pendiri YARSIS adalah dr. Djufrie sebagai Ketua Umum, dr. Amin Romas sebagai Sekretaris Umum, dan Ir. Taufiq Rusdi sebagai Bendahara.
    5. Sesuai dengan aspirasi para pendiri dan Ummat Islam Surakarta maka maksud dan tujuan Yayasan dirumuskan sebagai berikut : mendirikan dan membangun Rumah Sakit Islam yang dijalankan sesuai dengan ajaran Islam serta mendirikan tempat pendidikan tenaga kesehatan yang berjiwa Islam yang sebenar- benarnya. Maksud dan tujuan YARSIS ini sudah disesuaikan dengan pengumpulan dana pembangunan dari wakaf Ummat Islam Surakarta sehingga mendirikan/ membangun Rumah Sakit Islam sebagai Ikrar wakaf dan dijalankan sesuai dengan ajaran Islam sebagai Syarat sahnya wakaf. Dengan demikian YARSIS dari awal sudah sebagai Yayasan Wakaf.
    6. Berbicara masalah wakaf maka akan selalu terikat adanya Nadzir, Wakif, harta benda wakaf, dan Ikrar Wakaf (untuk apa wakaf diperuntukan). Karena Nadzir mendirikan YARSIS, maka kemudian disebut Nadzir YARSIS, yang dalam penerimaan Harta Wakaf Ummat Islam kemudian diterimakan kepada Pengurus YARSIS dr. Djufrie (Ketua Umum), dr. Amin Romas (Sekretaris Umum), dan Ir. Taufiq Rusdi (Bendahara Umum). Kami bertiga adalah Nadzir YARSIS.
    7. Pendirian YARSIS sebagai Badan Hukum dan Pelaksana Badan Usaha yaitu Rumah Sakit Islam Surakarta di mana dr. Djufrie sebagai Ketua Umum, dr. Amin Romas sebagai Sekretaris Umum, dan Ir. Taufiq sebagai bendahara Umum dibuat pada tahun 1970 dengan Akta No.35 tahun 1970, dihadapan R. Soegondo Notodisoerdjo, Notaris di Surakarta.
    8. YARSIS sebagai Yayasan meskipun belum dengan nama wakaf telah memenuhi unsur-unsur sebagai Yayasan wakaf dengan telah tercantumnya dalam Akta No.35 tahun 1970 dengan maksud dan tujuan pasal 2 :
      1. Mendirikan/ membangun dan menjalankan Rumah Sakit Islam dan usaha- usaha lain dalam bidang kesehatan (Balai Pengobatan, Balai Kesehatan ibu dan Anak, Apotik, Pabrik Obat dan lain- lainya);
      2. Untuk pertama kali akan didirikan sebuah rumah sakit dengan taraf perawatan yang setinggi- tingginya dan sesuai dengan ajaran Islam bagi masyarakat yang sakit pada umumnya dengan tidak memandang golongan, agama, dan kedudukan.
      3. Mengadakan tempat pendidikan kader- kader dalam bidang kesehatan yang berjiwa Islam yang sebenarnya (Dokter, Juru rawat, bidan, dan sebagainya)

Dengan demikian, unsur-unsur wakafyang disyaratkan sebagai Akte Wakaf terpenuhi sebagai berikut :

a)      Nadzir dr. Djufrie (Ketua), dr Amin Romas (Sekretaris), dan Ir. Taufiq (Bendahara).

b)      Wakif, selain dr. Djufrie, dr Amin Romas, dan Taufiq Rusdi, Ummat Islam Surakarta yang mewakafkan hartanya.

c)      Harta wakaf diperoleh dari mengumpulkan harta wakaf berupa uang tunai untuk membeli tanah dan membangun sarana dan prasarana RS. Islam Surakarta.

d)     Ikrar wakaf adalah membangun RS. Islam Surakarta.

e)      Wakaf dijalankan sesuai dengan ajaran Islam.

f)       Jangka waktu wakaf tidak ditentukan lamanya.

  1. Penerbitan buku saku untuk memperluas seruan kepada Ummat Islam (kaum Muslimin dan Muslimat) di Surakarta mengajak membangun Rumah sakit Islam di Surakarta dengan mengumpulkan harta wakaf dan membuat blangko wakaf sebagai bukti pembelian tanah wakaf mulai dari RP. 200,- untuk 1 m2 sampai Rp.200.000,- untuk 1000 m2.
  2. Pembelian tanah 1 (satu) Ha yang terletak di dukuh Mendungan Jl. A. Yani, Pabelan, Kec. Kartasura, Kab. Sukoharjo sebagai wujud tanah wakaf yang kemudian disertifikatkan HGB No.13. Kab. Sukoharjo yang dibeli dengan uang hasil pengumpulan blanko wakaf Ummat Islam oleh Ir. Taufiq bertindak selaku Bendahara Nadzir dan YARSIS dari Pemda Sukoharjo tahun 1972.
  3. Pembuatan Masterplan RS. Islam Surakarta pada tahun 1976 untuk membangun di atas tanah 1 Ha tersebut butir (10).
  4. Kerjasama dengan Jamaah Haji Surakarta dalam mengumpulkan harta wakaf selanjutnya tahun 1978 dan diadakan peletakan batu pertama oleh Bp. M. Natsir pada tanggal 16 Juni 1980, sehingga selama 3 (tiga) tahun berhasil mengumpumpulkan wakaf untuk membangun Jembatan, Gedung Al- Fajr, Al- Kautsar, Al- Hajji I, Al- Hajji II, Gedung Administrasi dan Gizi. Pada masing-masing gedung dilekatkan prasasti wakaf.
  5. Pada tanggal 30 Juli 1983 diadakan peresmian pembukaan RS. Islam Surakarta oleh Gubernur Jawa Tengah Bp. H. M. Ismail.
  6. Tahun 1983 YARSIS mendapat wakaf tanah dari Yayasan PFKUII Surakarta seluas 1 (satu) Ha yang kemudian tercatat dengan sertifikasi HGB No.2 Kabupaten Sukoharjo, yang diserahkan oleh Bp. dr. Slamet Prawironoto (Ketua YPFKUII) kepada YARSIS dan diterima oleh dr. HM. Djufrie As, SKM., bertindak selaku Ketua Nadzir dan Ketua Umum Yayasan Rumah Sakit Islam Surakarta) untuk Rumah Sakit Islam Surakarta.
  7. Terjadi perubahan Akta YARSIS yang pertama dengan Akta No.32 tahun1983 yang dibuat dihadapan R. Hari Purwanto, Notaris di Surakarta. untuk penyesuaian dengan adanya Anggota Pengurus Jamaah Haji Surakarta yang masuk Anggota Pengurus YARSIS dan menggantikan Anggota yang tidak aktif atau telah meninggal dunia..
  8. Pengumpulan dana wakaf dan sumbangan berjalan terus disamping hasil pengembangan usaha RS. Islam Surakarta, sehingga dapat menambah bangunan Gedung kamar Operasi tahun 1985, Gedung Kebidanan tahun 1990, Tambahan kamar VIP tahun 1992, Gedung Poliklinik, kantor, dan Aula tahun 1998, Masjid Baiturahman tahun 2000.
  9. Pada tahun 2000 diadakan perubahan Masterplan tahun 1976, sehingga Bangunan bertambah Gedung Koperasi tahun 2001, Gedung Sayap Barat yang berfungsi sebagai ruang Gawat darurat, Laboratorium, VIP, OK, dan ICCU tahun 2002, Gedung Kebidanan tahun 2004, Gedung Gizi dan Laundry tahun 2006, dan Gedung Utama 6 Lantai tahun 2008, di samping itu diadakan renovasi terhadap Gedung Al- Fajr, Al- Kautsar, Al- Hajji I, dan Al- Hajji II, dan Gedung Kebidanan lama  menjadi Gedung Perawatan anak Al- A’rof, dengan demikian  RS. Islam Surakarta  telah selesai dibangun pada tahun 2008.
  10. Sejak tahun 2000 Pembangunan dan Pembelian alat-alat baik Medis maupun Non Medis sebagian besar berasal dari hasil pengembangan wakaf Rumah Sakit Islam Surakarta.
  11. Semua asset wakaf Rumah Sakit Islam Surakarta sejak tahun 1970, berupa harta benda wakaf diserahkan wakif langsung atau melalui Tim dana pengumpul wakaf dan atau melalui Tim Pembangunan Rumah Sakit Islam Surakarta kepada Nadzir YARSIS yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Umum dr. Djufrie dan Sekretaris Umum dr. Amin Romas, dan telah teradministrasikan dan tersimpan  dengan  baik. 
  12. Pimpinan  atau  Direksi Rumah  Sakit  Islam  Surakarta  sejak  tahun  1983  sampai  saat  ini ( tahun 2015) dipegang oleh orang-orang yang diangkat dan dipercaya oleh Nadzir YARSIS melalui mekanisme AD Yayasan Wakaf.
  13. Perlengkapan alat-alat medis mutakhir, seperti CT Scan 16 dan 64 Slice, Ro, Minilmal Invasif, Cryo Surgery, Mini cat lab, MRI terpenuhi tahun 2011.

 

 

  1. III.            Pengelolaan Rumah Sakit Islam Surakarta
    1. Direksi Pengelolaan Rumah Sakit Islam Surakarta sejak tahun 1983 s/d tahun 2015.

1.

Periode 1983 s/d 1993

  • dr. Nahar Jenie, Sp.A (Direktur)
  • dr. M. Amin Romas (Wakil Direktur)

 

2.

Periode 1994 s/d 1999

  • dr. H. Sugiat As, SKM (Direktur)
  • dr. HM. Fathony Sp.JP (Wadir Medis)
  • Drg. Edy Sumarwanto, MBA (Wadir Keuangan)

 

3.

Periode 2000 s/d 2003

  • dr. HM. Djufrie As, SKM (Direktur)
  • dr. HM. Amin Romas, DSMK (Wadir Medis)
  • Drg. Edy Sumarwanto, MBA (Wadir Administrasi dan Keuangan)
  • Rudiyanto, SH (Wadir Umum dan Marketing)

 

4.

Periode 2004 s/d 2006

  • dr. HM. Djufrie As, SKM (Direktur Utama)
  • dr. HM. Amin Romas, DSMK (Direktur Medis)
  • Rudiyanto, SH (Direktur Umum dan Keuangan)

 

5.

Periode 2007 s/d 2011

  • dr. HM. Djufrie As, SKM (Direktur Utama)
  • dr. H. Chrisrianto,EN.,Sp.P (Direktur Medis)
  • Rudiyanto, SH (Direktur Umum dan Keuangan)

 

6.

Periode 2012 s/d Februari 2013

  • dr. H. Ibrahim Nuhriawangsa (Plt. Direktur Utama)
  • dr. HM. Amin Romas, DSMK (Pjs. Direktur Medis)
  • dr. HM. Djufrie As, SKM (Pjs. Direktur Umum dan Keuangan)

 

7.

Periode Maret 2013 s/d September 2014

  • dr. H. Sri Pratomo,Sp.B,FinaCS,FICS (Direktur Utama)
  • dr. H. Chrisrianto,EN.,Sp.P (Direktur Medis)
  • dr. H.M. Daris Raharjo (Direktur Umum dan Keuangan)

 

8.

Periode Oktober 2014 s/d November 2014

  • dr. HM. Djufrie As, SKM (Direktur Utama)
  • dr. HM. Amin Romas, DSMK (Direktur Medis)
  • Ir. M. Natsir Hadiyanto (Direktur Umum dan Keuangan)

 

9.

Periode Desember 2014 s/d 2019

  • dr. HM. Djufrie As, SKM (Direktur Utama)
  • dr. HM. Amin Romas, DSMK (Direktur Medis)
  • dr. HM. Surya Darmawan (Direktur Umum dan Keuangan).

 

Gallery Foto Sejarah

Akta

 

a

 

b

 

c

 

d

 

e