Selasa, 06 September 2016 - 13:01:48 WIB

Unit Stroke Punya Fasilitas Memadai untuk Pemulihan Pasien Stroke


Diposting oleh : Administrator
Kategori: BERITA - Dibaca: 2828 kali


StrokeStroke dikategorikan sebagai penyakit gaya hidup. Salah satu alasannya, penyakit ini sering memiliki faktor risiko yang terbentuk dari penerapan gaya hidup tidak sehat yang berlangsung lama. Akhirnya ketika faktor-fator pemicu stroke makin kuat, terjadilah serangan pada pembuluh darah di otak yang mulanya dari penyumbatan di area tersebut.


Beberapa pembentuk faktor risiko stroke adalah merokok, mengonsumsi alkohol, kurang berolahraga atau tidak aktif bergerak, suka mengonsumsi makanan berlemak, hipertensi, diabetes, dan sebagainya. Banyak pemicu dari stoke juga menjadi faktor risiko serangan jantung koroner.


Ada beberapa jenis serangan stroke, seperti stroke hemoragik dan iskemik. Pada stroke hemoragik, pasien mengalami kehilangan kesadaran akibat pecahnya pembuluh darah di otak. Serangan ini memicu kerusakan sel-sel otak di daerah tertentu.


Sementara untuk stroke iskemik, pasien yang terserang memiliki tanda mengalami kelumpuhan bagian tubuh tertentu misalnya tangan dan kaki di separuh tubuhnya. Dia juga tampak cadel saat berbicara dan sulit mengingat. Penyebab stroke ini adalah penyumbatan pembuluh darah karena gumpalan atau plak yang terbentuk dari proses pengerasan arteri (aterosklerosis).


Serangan stroke jenis apapun harus yang dialami seseorang, harus segera dirujuk ke rumah sakit. Selain agar stroke tertangani, juga mencegah otak pasien dari kerusakan fatal. Stroke bisa menimbulkan kerusakan otak secara permanen. Golden period atau masa emas untuk penyelematan pasien yang terkena stroke adalah enam jam dari terjadinya waktu serangan.


Untuk mendukung penanganan pasien stroke ini, di Rumah Sakit Islam Surakarta (RSIS) sudah menyiapkan tempat tersendiri bagi mereka. Unit Stroke telah tersedia dengan berbagai perlengkapan medis yang memadai. Jika ada pasien mengalami serangan stroke akut, mereka akan dibawa ke ruangan khusus di Unit Stroke dan secepatnya ditangani oleh dokter ahli yang dibantu oleh paramedis.


“Begitu pasien masuk ruangan maka segera ditangani dokter penanggung jawab pasien (DPJP), yaitu dokter spesialis syaraf. Kemudian akan dikonsultasikan lagi oleh DPJP kepada dokter konsulan,” kata Ahmad Kambali, petugas Unit Stroke RSIS.


Dalam menangani pasien stroke, dokter spesialis syaraf akan berkoordinasi dengan dokter ahli lainnya seperti dokter spesialis rehab medik dan dokter ahli gizi. Pasalnya, pasien stroke biasanya mendapatkan dirinya mengalami penurunan fungsi sebagian tubuhnya . Selain itu, menu makan mesti diatur secara sehat  dan kaya gizi.


Keadaan pasien terus dipantau selama berada di Unit Stroke. Dokter penanggung jawab melakukan visite secara rutin. Jika diperlukan penanganan yang mendesak dan perlu konsultasi dengan dokter ahli, tenaga medis  yang merawat juga melakukan kontak dengan dokter penanggung jawab melalui telepon. Dengan  begitu pasien tidak terlambat untuk mendapatkan terapi yang tepat.


Unit Stroke di RSIS sudah dilengkapi dengan beragam piranti memadai. Misalnya, tempat tidur modern  yang mudah diatur dan dipindahkan, serta kasur antilecet. Selain itu, perlengkapan penunjang lainnya sudah lengkap seperti alat pemonitor, Infus pump, dan sebagainya. Jumlah semua bed ada 8 buah yang terdiri dari dua kelas yakni VIP 8 bed dan Super VIP 1 bed. Semua ruangan telah dilengkapi pendingin udara. Untuk kelas Super VIP memiliki ruang tersendiri dan lengkap dengan sofa bagi penunggu.


“Demi mempercepat pemulihan pasien, ruang di Unit Stroke dikondisikan tenang,” ujar Kambali.


Diungkapkan Kambali, jumlah perawat yang mengampu Unit Stroke ada 9 orang. Empat orang dari perawat tersebut sudah melakukan magang di unit stroke milik Rumah Sakit Sardjito, Yogyakarta. Dengan demikian kapabilitas sumberdaya manusia di unit ini bisa diandalkan. Di samping itu, standar prosedur operasi untuk penanganan pasien stroke sudah lengkap.


Dokter penanggung jawab pasien untuk Unit Stroke RSIS ada empat orang, yakni Prof. Dr. H. Rusdi Lamsudin, Sp.S, dr. HM. Amaludin M, Sp.S, dr. H. Suratno, Sp, S, dan dr. Risono, Sp.S. Semua dokter siap membantu setiap pasien yang ditangani unit stroke sekalipun pasien masuk rumah sakit di malam hari.


“Jika ada pasien datang tengah malam, maka akan disampaikan kepada dokter jaga bangsal untuk diperiksa. Setelah itu dokter jaga, melaporkan hasilnya ke DPJP tentang kondisi pasien. Kemudian keluarga pasien akan dimotivasi,” tutur Kambali.


Kalau melihat pasien mengalami serangan stroke, baik masih sadar atau sudah pingsan, sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit. Pasien yang tertangani dalam golden period enam jam setelah serangan, sangat dimungkinkan mengalami  kondisi pasca stroke yang lebih baik. Sebaliknya, pasien yang telat ditangani lebih mungkin memiliki keadaan lebih buruk. Rehabilitasinya juga lebih lama ke depannya. Mengenali gejala stroke menjadi hal yang penting.


“Gejalanya seperti mendadak pelo (cadel), lemah pada sebagian tubuh, hingga mendadak pusing. Pada tubuh yang lemah diawali dengan rasa kesemutan,” papar Kambali.



Berita Terkait :



Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)