Senin, 18 Mei 2015 - 08:12:08 WIB

Neuropati Optik Toksik


Diposting oleh : Administrator
Kategori: INFO SEHAT - Dibaca: 9434 kali


Neuropati optic toksik adalah kelainan syaraf mata akibat keracunan suatu bahan atau obat-obatan yang berdampak mata kabur, bahkan kebutaan. Obat-obatan atau bahan kimia yang dapat menyebabkan neuropati optic toksis adalah methanol atau alkohol, etambutol, hidroksikuinolin, terhalogenasi, dan racun dari rokok. Secara klinis, penderitanya mengalami penurunan tajam penglihatan (visus bilateral), progresif, didapatkan penglihatan skotoma sekosentral, gangguan penglihatan warna, dan selanjutnya dapat terjadi kebutaan (atrofi optic).


Neuropati optic toksik dapat terjadi secara akut atau kronis. Dalam hal ini, perlu kewaspadaan dokter yang memberikan obat yang bisa menimbulkan neuropati optic toksik. Evaluasi berkala sangat penting untuk mengetahui seawal mungkin efek yang tidak diinginkan.


Secara oftalmoskopi, pada intoksikasi methanol akut terdapat gambaran diskus optikus mengalami edema dan hyperemia. Edema terus meluas ke retina perifer. Dan, atrofi optic atau kebutaan akan timbul setelah dua bulan serangan intoksikasi. Pasien biasanya mengeluh penglihatan meredup, gangguan penglihatan warna, skotom sentral, dan visus turun.


Neuropati optic toksik akut terjadi karena disebabkan alkohol atau metanol, perlu perhatian khusus. Mula-mula pasien mengeluh nausea dan vomitus saat terjadinya keracunan metanol. Setelah 18-48 jam, pasien mulai mengalami gangguan pernafasan, sakit kepala, gangguan penglihatan, sakit perut, dan kelemahan umum. Pasien dapat mengalami koma dan kematian akibat gagal nafas. Gangguan penglihatan berupa visus turun, skotoma sekosentral yang sangat luas, bahkan dapat menyebabkan kebutaan.


Gangguan penglihatan ini biasanya bersifat irreversibel. Tidak jarang pasien menyadari gangguan penglihatannya setelah terselamatkan dari ancaman jiwa. Biasanya, baru dirasakan setelah pulang dari perawatan oleh bagian penyakit dalam atau penyakit syaraf.


Pada pasien, biasanya hanya tersisa lapang pandangan tepi yang berupa cincin yang sempit dengan kepekaan minimal. Misalnya dengan visus 1/60 atau kurang, karena adanya skotom absolute yang luas, dan meluas ke tepi.


Ada kasus seperti ini di RS. Islam Surakarta. Seorang laki-laki umur 30 tahun datang dengan keluhan kedua mata gelap dan tidak dapat melihat sama sekali. Penyebabnya, lima hari sebelumnya, penderita mengalami kecelakaan dan terjatu dari kendaraan. Dia sempat dirawat di RS. Islam Surakarta selama dua hari dengan cedera kepala. Dia kemudian dipulangkan karena sudah ada perbaikan.


Hanya saja, setelah di rumah selama dua hari, penglihatannya semakin kabur.Bahkan, sehari belum masuk rumah sakit untuk yang kedua kali, kedua matanya gelap. Pada permeriksaan tajam penglihatan, analisanya VODS = 0 (no ligh perception) dengan pupil mid dilatasi, dan reflek cahaya kedua pupil minimal. Gambaran diskus optikus sedikit edema dan hiperemi, retina edema.


Setelah dilakukan pemeriksaan, penderita didiagnosa ODS. Neuropati Optik Toksik karena alkohol. Penderita lalu dirawat di RS. Islam Surakarta dan mendapatkan pengobatan steroid, neuro protector, dan pengobatan syaraf mata. Selain itu juga dilakukan hemodialis atau cuci darah sebanyak empat kali. Setelah menjalani perawatan selama dua minggu, penderita berangsur-angsur dapat melihat dan pulang dengan tajam penglihatan (visus) 3/60. Kemudian,  penderita diperbolehkan rawat jalan. Setelah satu bulan berjalan, tajam penglihatannya menjadi 6/I2.


Penyakit neuropati optik toksik termasuk kategori penyakit mata yang bersifat emergency atau kegawatan. Penanganan yang kurang cepat dan serius dapat menyebabkan kebutaan yang bersifat permanen. Pada pasien tersebut, saat masuk rumah sakit yang pertama akibat kecelakan karena mabuk, hanya didignosa cedera kepala dan kurang menanggapi keluhan matanya sampai saat dipulangkan. Sehingga, setelah di rumah dua hari, penglihatannya semakin gelap.


Alhamdulillah dengan penanganan yang cepat dan lengkap, dan berkat  kesabaran pasien dan keluarganya, penglihatannya makin lama berangsur-angsur membaik dan dapat melihat kembali. Atau, dapat dikatakan, penderita masuk rumah sakit saat kedua matanya buta dan setelah mendapatkan penanganan yang baik akhimya dapat melihat kembali


 


Dr. Rahajo Kuntoyo Sp.M



Berita Terkait :



Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)